User Tools

Site Tools


sendangsono

Sendang Sono

Sendang berarti “ sumber air “ dan sono “pohon angsana”. Sendang sono secara harafiah diartikan sebagai sumber air di bawah pohon Angsana. Dahulu juga disebut Sumber Semagung karena berdekatan dusun Semagung. Sendangsono terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Tempat ini bisa diakses dari arah jogja menuju ke Barat, kemudian mengambil jalan alternatif menuju ke Magelang, dengan lama perjalanan sekitar 1 jam menggunakan motor atau mobil.

Awalnya, sumber air ini adalah suatu tempat yang dianggap keramat, banyak orang datang untuk bersemedi atau mendapatkan wangsit. Dulu, sumber air ini menjadi titik peristirahatan para Biksu yang sedang dalam perjalanan dari Boro – Borobudur. Tetapi kemudian hari situs ini menjadi situs Katolik bermula dari pertemuan seorang pribumi bernama Sariman Soerawirja dengan 2 orang Misioner Belanda yaitu Rm. Kersten SJ dan Rm. Van Lith SJ. Sariman lalu di baptis di situs Sendang Sono ini dengan nama baru Barnabas Sarikrama. Ia menjadi katekis pertama di sini, dan mempelopori 171 orang lainnya juga dibaptis. Pembaptisan ini menjadi tongggak awal berdirinya Gereja Katolik di Jawa. Sarikrama kemudian meninggal dan di makamkan di situs pemakaman Sendangsono.

Goa Maria Pada tahun 1923, Rm. JB. Prennthaler SJ yang berkarya di daerah Kalibawang memiliki gagasan untuk mendirikan Goa Maria sebagai situs Katolik dan perziarahan. Ia berpikir Goa ini bisa memberikan kesempatan orang orang untuk berdoa kepada bunda Maria dan memohon perlindungannya. Lalu sebuah patung Bunda Maria dari Swiss didatangkan dan di bawa secara bergotong royong dai Sentolo ke Kalibawabg dan naik ke Sendangsono. Pada tahun 1929, Goa Maria diberkati bertepatan dengan 75 tahun peresmian dogma Maria dikandung tanpa noda. Hal ini juga dianggap sebagai perayaan syukur misi pelayanan selama 25 tahun di Kalibawang.

Arsitektur Pembangunan situs Sendangsono terjadi secara bertahap. Awalnya lokasi ini dibangun hanya sebagai lokasi doa dan semedi untuk para pendatang. Namun kemudian dengan adanya tujuan lain yang bersifat ziarah dan doa, maka tumbuh bentuk arsitektur yang baru. Pengembangan yang paling terlihat pada bentuk tempat ini adalah sejak tahun 1969, yaitu pengembangan yang di prakarsai oleh Romo TB. Mangunwijaya. Beliau memulai pakerjaannya dengan pengaturan tempat, pembalian lokasi disekitar sendang dan goa. Kemudian dibuatlah komposisi teras teras di sekitar pusatnya.

Arsitektur Sendangsono dibagi 3, yaitu jalan masuk pelataran dan area sakral. Bagian jalan masuk dimulai dari jalan dari jalan besar lalu ke arah Gereja Promasan. Dari sini jalan ditandai dengan area Jalan Salib dari Gereja Promasan ke Sendangsono. Panjangnya sekitar1 kilometer dan terdiri atas 14 stasi dengan bangunan berlukis kisah sengsara Yesus. Bagian Pelataran berupa tempat istirahat dan berkumpul. Ada banyak pendopo dan rumah rumah panggung yang bisa dipakai pengunjung. Biasanya di lokasi lokasi ini, para peziarah melakukan refleksi dan konseling bersama sama setelah melakukan prosesi ziarah atau jalan salib. Lalu pada bagian Sakral terbagi 2 tempat, yaitu pelataran dan sentral. Area Sakral dicat warna merah dan putih, yaitu untuk melambangkan keberanian, tanda Roh Ilahi dan kesucian. Area Sakral ini selalu dijaga agar suasana hening dan doa tetap ada supaya kondisi diri bisa disesuaikan untuk menghadap kepada Tuhan dan Bunda Maria.

Saat ini, situs ini menjadi salah satu pusat lokasi peziarahan di Jogja, bersama sama dengan lokasi Goa Maria Jatiningsih yang searah ketika menuju ke Sendangsono. Para peziarah dan umat Katolik umumnya datang kesini untuk berdoa. Ada Romo yang siap memberikan pelayanan, baik berupa konseling dan doa, dan juga pemberian berkat untuk berbagai kebutuhan. Kegiatan Liturgial juga sering dilaksanakan bersama sama di lokasi ini. Kegiatan ini bisa berupa ibadat dan misa, dan juga ada novena bersama. Misa rutin biasa dilaksanakan setiap Jumat Pertama, setiap Sabtu dan Minggu. Namun untuk bulan bulan tertentu seperti BUlan Maria dan Rosario ibadat memiliki jadwal sendiri. Ada juga Novena Syukur seperti pada peringatan 111 tahun peringatan pembaptisan pertama. Ada 3 Kapel yang bisa dipergunakan untuk prosesi ibadah yaitu Kepel Para Rasul, Kapel Maria dan Kapel Tri Tunggal.

Pada tahun 1991, Sendangsono mendapatkan penghargaan IAI Award dari Ikatan Arsitek Indonesia sebagai karya Arsitektur Terbaik dengan kategori Bangunan Khusus : Usaha Penataan Lingkungan.

Dokumentasi

dsc_0002.jpg

INFORMASI

Kantor Sekreteriatan Sendangsono

website Web Sendangsono

facebook : Sendang_sono@yahoo.co.id

sendangsono2@yahoo.com

Sumber

Kantor Sekretariatan Sendangsono

Profil Goa Maria Lourdes Sendangsono

Website informasi Sendangsono

sumber foto : dokumentasi pribadi

sendangsono.txt · Last modified: 2015/05/22 10:42 by lusiuspuput