User Tools

Site Tools


upacara_labuhan

Upacara Labuhan

Apa itu Upacara Labuhan ?

Upacara Labuhan merupakan upacara adat yang diadakan secara rutin setiap tahunnya sejak jaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang. Labuhan sendiri berasal dari kata Labuh yang berarti Larung, yaitu membuang sesuatu ke dalam air. Sehingga pada upacara Labuhan ini biasa warga kerajaan akan menaruh sesajian di laut untuk diberikan kepada roh halus yang berkuasa atas suatu tempat. Upacara Labuhan ini juga diyakini akan membawa keselamatan, ketentraman, dan kesejahteraan masyarakat dan negara. Pusat diadakannya upacara Labuhan adalah di Keraton Yogyakarta, dimana upacara tersebut dilakukan atas titah Sri Sultan, selaku raja yang berperan sebagai kepala kerajaan, kepala pemerintahan, dan pemangku adat keraton.

Kronologi Upacara Labuhan

Upacara Labuhan memiliki kisah dibalik kelahirannya. Pada zaman Kerajaan Mataram, masa pemerintahan Panembahan Senopati, beliau mencoba mencari dukungan moril untuk memperkuat kedudukannya. Untuk itu beliau bertapa agar memperoleh dukungan dari Kanjeng Ratu Kidul, yaitu makhlus halus penguasa laut selatan. Dari situ, Panembahan Senopati membuat perjanjian penjagaan kesejahteraan masyarakat dengan imbalan pemberian persembahan dalam bentuk Upacara Labuhan. Pada generasi-generasi selanjutnya, upacara Labuhan ini pun menjadi tradisi untuk selalu dilakukan turun-temurun oleh setiap raja yang naik tahta. Karena jika tidak, diyakini bahwa Kanjeng Ratu Kidul akan murka dan akan mengirimkan pasukan jin untuk merusak kesejahteraan rakyat dan negara. Meski Kerajaan Mataram telah terpecah menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, upacara adat ini terus dilakukan hingga kini. Bahkan menjadi salah satu upacara yang dinikmati warga sekitar maupun wisatawan domestik dan asing.

Seperti Apa Upacara Labuhan itu ?

Upacara Labuhan selalu dilengkapi dengan sesajen. Sesajen tersebut dipersiapkan oleh kedua pawon keraton Yogyakarta, yaitu Pawon Sakalanggen (dapur sebelah timur) dan Pawon Gebulan (dapur sebelah barat). Sesajen tersebut terdiri dari sanggan, tukon pasar, pala gumantung, pala kependhem, dan pala kasimpar. Sesajen tersebut nantinya akan dipisahkan menjadi tiga atau empat bagian, tergantung dari jenis upacara Labuhan, dan masing-masingnya akan dimasukkan ke dalam kotak kayu kecil tertutup. Sesajen tersebut, biasanya berupa potongan kuku Sri Sultan (kenaka) serta potongan rambut Sri Sultan (rikma) yang dikumpulkan selama satu tahun, kemudian beberapa potong pakaian bekas Sri Sultan, benda bekas milik Sri Sultan yang berwujud payung (songsong), sejumlah barang yang sebagian besar terdiri dari kain, dan Layon Sekar, sejumlah bunga yang layu dan kering yang merupakan bekas bunga sesaji pusaka-pusaka keraton yang telah dikumpulkan selama setahun.

Berdasarkan jenisnya, Upacara Labuhan dibedakan menjadi 2, yaitu Labuhan Ageng dan Labuhan Alit. Labuhan Ageng adalah upacara Labuhan yang diadakan 8 tahun sekali sesuai dengan tahun Dal, sedangkan Labuhan Alit dilakukan di luar tahun Dal dan diadakan setiap tahunnya, kecuali di tahun yang bertepatan dengan Labuhan Agung. Kedua labuhan tersebut sama-sama dilakukan di luar Keraton. Dimulai dari Keraton menuju tempat-tempat upacara yang diyakini pernah menjadi tempat bertapa para leluhur. Jika Upacara merupakan Upacara Labuhan Agung, maka sesajen dijalankan dari Keraton menuju ke empat tempat yang berbeda1), yaitu :

  • Dlepih, terletak di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  • Parangtritis, terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta, di tepi Lautan Indonesia (Laut Selatan)
  • Puncak Gunung Lawu, perbatasan Tawangmangu dan Madiun
  • Puncak Gunung Merapi, terletak di wilayah Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Dimana pada setiap tempatnya, upacara Labuhan akan dipimpin oleh Juru Kunci masing-masing tempat. Juru kunci tersebut merupakan pelaksana upacara yang bertindak atas nama raja. Jika upacara merupakan Upacara Labuhan Alit, maka sesajen akan dijalankan dari Keraton menuju ke tiga tempat saja, yaitu Parangtritis, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu.

Berdasarkan tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara Labuhan juga dilakukan secara resmi dalam peristiwa-peristiwa tertentu, seperti Penobatan Sultan, Peringatan hari ulang tahun Penobatan Sultan, disebut Tinggalan Panjenengan atau Tinggalan Dalem Panjenengan atau Tinggalan Jumenengan, dan Peringatan 8 tahun penobatan Sultan, disebut Peringatan hari Windon.


Sumber:

1) kebudayaanindonesia.net, 2013
upacara_labuhan.txt · Last modified: 2015/05/22 02:15 by joejov