This is an old revision of the document!
oleh: Febe Nathania
Tradisi “tapa bisu mubeng benteng” merupakan ritual mengelilingi benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tanpa berbicara dalam rangka memperingati tahun baru Jawa 1 Sura. Di dalam melakukan tapa bisu ini, warga berjalan keliling benteng sejauh 5 kilometer tanpa berbicara, merokok, makan atau minum. Ritual ini bukan tradisi yang diciptakan oleh keraton, melainkan sudah menjadi tradisi asli masyarakat Jawa.
Tujuan dari ritual ini yaitu untuk perenungan diri serta refleksi terhadap apa saja yang telah diperbuat selama satu tahun agar siap menghadapi tahun yang akan datang. Selama menjalani ritual tersebut, masyarakat mengucap syukur serta memanjatkan doa permohonan untuk kesejahteraan dirinya, keluarga, bangsa dan negara kepada Tuhan. Mubeng benteng hanyalah sarana agar kita semakin memahami dan menyadari bahawa kehidupan ini sudah ada yang mengatur, yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Pukul 22.00 pada malam 1 Suro, abdi dalem dan warga telah berkumpul di Pelataran Keben. Ritual ini diawali dengan pembacaan macapat atau kidung berbahasa Jawa. Persiapan mereka lakukan dengan membawa panji-panji Keraton Jogja, teplok atau lampu, dan menyan. Tapa bisu ini dimulai tepat pukul 00.01, selepas bunyi lonceng Kyai Brajanala yang terletak di Regol Kaben berdenting sebanyak 12 kali sebagai tanda pergantian hari. Ketika menjalani ritual tersebut seluruh abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki dengan membawa sejumlah bendera atau panji. Pada barisan depan pimpinan oleh para abdi dalem yang membawa sembilan bendera yang berasal dari sembilan Kabupaten, salah satunya adalah bendera merah putih, kesembilan bendera tersebut melambangkan persatuan. Kemudian dibelakang barisan para abdi dalem adalah barisan masyarakat yang mengikuti perayaan ini. Arak-arakan ini diikuti oleh ribuan masyarakat serta membentuk barisan sepanjang 500 meter.
Rute yang dilalui adalah sebagai berikut: Keben – Jalan Rotowijayan – Jalan Kauman – Jalan Agus Salim – Jalan Wahid Hasyim – Suryowijayan – Pojok Beteng Kulon – Jalan Letjen M.T. Haryono – Jalan Mayjen Sutoyo – Pojok Beteng Wetan – Jalan Brigjen Katamso – Jalan Ibu Ruswo – Alun alun Utara.