This is an old revision of the document!
Bendara Raden Mas Dorodjatun atau Sri Sultan Hamengkubuwana IX (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono IX) dilahirkan di Yogyakarta, 21 April 1912 pukul 22.30 WIB. Beliau adalah salah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua dari tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Ketika berusia 4 tahun, Dorodjatun diharuskan tinggal terpisah dari keluarganya dan tinggal di rumah keluarga Mulder, seorang kepala sekolah NHJJS (Neutrale Hollands Javaansche Jongen School, sekolah untuk anak-anak Belanda dan Jawa khusus laki-laki). Hal tersebut merupakan kebijakan sang ayah dalam mendidik anak-anaknya, kebijakan tersebut juga berlaku pada saudara-saudaranya yang lain namun mereka tidak dikumpulkan dalam satu keluarga Belanda yang sama.
Meskipun keluarga bangsawan namun Pangeran tidak menganjurkan anak-anaknya diperlakukan secara istimewa. Ia menginstruksikan agar anak-anaknya dididik layaknya rakyat biasa. Tujuannya agar suatu saat mereka dapat tumbuh sebagai pribadi yang sederhana sertu penuh kedisiplinan. Merekapun diajarkan untuk bersikap mandiri karena selama menjalani hidup di rumah keluarga Mulder, mereka tidak diikuti pembantu (abdi dalem).
Disaat tinggal dirumah Mulder, Dorodjatun mendapat nama panggilan Henkie (Henk yang kecil, diambil dari nama Pangeran Hendrik, suami Ratu Wilhelmina dari Negeri Belanda). Beliau kemudian bersekolah di Frobel School di Bintaran (semacam Taman Kanak-Kanak). Pada saat memasuki usia 6 tahun, beliau bersekolah di Eerste Europese Lagere School B di Kampemenstraat (sekarang Jl. Panebahan Senapati). Selanjutnya beliau pindah ke sekolah Neutrale Europese Lagere School yang berada di Jl. Pakem (kemudian diberi nama Jl. Kaliurang).
Ayahnya dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono VIII saat beliau duduk di kelas III sekolah dasar tahun 1921. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau kemudian melanjutkan studinya ke Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang dan Bandung. Sebelum sempat menyelesaikan pendidikannya beliau dipindahkan ke Belanda. Saat berada di Belanda, beliau menyelesaikan Gymnasium di Harlem dan kemudian meneruskan di Rijksuniversitet di kota Leiden dengan mengambil jurusan Indologi (ilmu tentang sejarah, literatur, dan filosofi Indonesia).
Pada tahun 1939, sang ayah, Hamengku Buwono VIII memintanya untuk kembali ke tanah air saat beliau sedang berstatus mahasiswa tingkat akhir dan kejadian ini berbarengan dengan meletusnya Perang Dunia II. Setibanya di tanah air, beliau disambut oleh ayahnya seraya menyerahkan keris Joko Piturun (simbolis penanda pengganti raja). Beberapa hari kemudian setelah penyerahkan keris tersebut, Sultan Hamengku Buwono VIII tutup usia. Dorodjatun kemudian dilantik sebagai putra mahkota sekaligus dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Hamengku Buwono IX pada 18 Maret 1940.
Sumber: