User Tools

Site Tools


gedung_agung

Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

gedung_agung [2015/05/22 11:53]
yoas.hernanda
gedung_agung [2015/05/22 12:01] (current)
yoas.hernanda [Sejarah]
Line 12: Line 12:
 Istana kepresidenan ini berawal dari rumah resmi dari Anthonie Hendriks Smissaert, yang merupakan residen Belanda ke-18 di Yogyakarta (1823-1825). Beliau jugalah yang memprakarsai awal pembangunan gedung ini pada tahun 1824 di bulan Mei. Karya arsitektur bersejarah ini didesain oleh seorang arsitek bernama A.Payen yang ditunjuk langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada waktu itu. Pembangunan Gedung ini sempat tertunda karena terjadinya Perang Diponegoro atau Perang Jawa pada tahun 1825-1830. Pembangunan dilanjutkan kembali setelah berakhirnya perang tersebut dan selesai pada tahun 1832. Belum selesai disitu, gedung ini kembali ambruk karena gempa yang terjadi pada 10 Juni 1867, dan baru selesai didirikan kembali pada tahun 1869. Istana kepresidenan ini berawal dari rumah resmi dari Anthonie Hendriks Smissaert, yang merupakan residen Belanda ke-18 di Yogyakarta (1823-1825). Beliau jugalah yang memprakarsai awal pembangunan gedung ini pada tahun 1824 di bulan Mei. Karya arsitektur bersejarah ini didesain oleh seorang arsitek bernama A.Payen yang ditunjuk langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada waktu itu. Pembangunan Gedung ini sempat tertunda karena terjadinya Perang Diponegoro atau Perang Jawa pada tahun 1825-1830. Pembangunan dilanjutkan kembali setelah berakhirnya perang tersebut dan selesai pada tahun 1832. Belum selesai disitu, gedung ini kembali ambruk karena gempa yang terjadi pada 10 Juni 1867, dan baru selesai didirikan kembali pada tahun 1869.
 Setelah berdirinya, gedung ini sudah ditempati oleh sederet Gubernur Belanda saat itu, seperti J.E. Jesper pada tahun 1926-1927, P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929-1932),​ H.M. de Kock (1932-1935),​ J. Bijlevel (1935-1940),​ sampai pada L. Adam pada tahun 1940-1942. Pada masa pemerintahan Jepang, Gedung Agung juga menjadi rumah kediaman dari Penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan. Setelah berdirinya, gedung ini sudah ditempati oleh sederet Gubernur Belanda saat itu, seperti J.E. Jesper pada tahun 1926-1927, P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929-1932),​ H.M. de Kock (1932-1935),​ J. Bijlevel (1935-1940),​ sampai pada L. Adam pada tahun 1940-1942. Pada masa pemerintahan Jepang, Gedung Agung juga menjadi rumah kediaman dari Penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.
-Semenjak ​ tanggal 6 Januari 1946 gedung agung resmi menjadi Istana kepresidenan Republik Indonesia, bertepatan dengan dijadikannya Yogyakarta sebagai Ibukota sementara saat itu. Saat Presiden dan wakil Presiden sudah kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949, gedung ini sudah tidak lagi menjadi tempat tinggal Presiden, dan dipergunakan sebagai tempat menginap Presiden ketika Presiden berada di Yogyakarta. Terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1991, Gedung Agung secara resmi juga di pakai sebagai tempat memperingati detik-detik proklamasi tingkat propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.+ 
 +Semenjak ​ tanggal 6 Januari 1946, gedung agung resmi menjadi Istana kepresidenan Republik Indonesia bertepatan dengan dijadikannya Yogyakarta sebagai Ibukota sementara saat itu. Saat Presiden dan wakil Presiden sudah kembali ke Jakarta pada 28 Desember 1949, gedung ini sudah tidak lagi menjadi tempat tinggal Presiden, dan dipergunakan sebagai tempat menginap Presiden ketika Presiden berada di Yogyakarta. Terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1991, Gedung Agung secara resmi juga di pakai sebagai tempat memperingati detik-detik proklamasi tingkat propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  
 ==== Bangunan & Monumen Istana ==== ==== Bangunan & Monumen Istana ====
gedung_agung.1432270399.txt.gz · Last modified: 2015/05/22 11:53 by yoas.hernanda