User Tools

Site Tools


museum_jogja_kembali

Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

museum_jogja_kembali [2015/05/16 10:58]
vessalius
museum_jogja_kembali [2015/05/16 11:16] (current)
vessalius
Line 2: Line 2:
 =====“MONJALI”===== =====“MONJALI”=====
 ---- ----
-Monumen Yogya Kembali (Monjali) merupakan salah satu museum di Yogyakarta yang menyimpan sejarah perjuangan masyarakat Yogyakarta dalam merebut kembali kota Yogya dari penjajah pada masa penjajahan. Monjali terletak di Jalan Ringroad Utara Yogya, dan tepatnya di kawasan Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Monjali juga memiliki nilai keindahan tersendiri dari segi bangunan. Bangunan yang berbentuk seperti nasi tumpeng atau gunung merupakan ciri khas dari Monjali. Tinggi dari bangunan ini adalah 31,8 meter. Konon bentuk bangunan yang mengerucut ke atas ini merupakan lambang yang mempresentasikan Gunung Merapi Yogyakarta dan simbol kemakmuran masyarakat Yogya. Dalam tradisi Jawa tumpeng seolah-olah sebagai bentuk gunung yang dapat dihubungkan dengan kakayon atau gunungan dalam wayang kulit, yang melambangkan kebahagiaan / kekayaan kesucian dan sebagai penutup setiap episode perjuangan bangsa. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Yogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera. Nama Monumen Yogya Kembali merupakan lambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai pengingat akan sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta+{{:​cam00635.jpg?​200 |}}Monumen Yogya Kembali (Monjali) merupakan salah satu museum di Yogyakarta yang menyimpan sejarah perjuangan masyarakat Yogyakarta dalam merebut kembali kota Yogya dari penjajah pada masa penjajahan. Monjali terletak di Jalan Ringroad Utara Yogya, dan tepatnya di kawasan Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Monjali juga memiliki nilai keindahan tersendiri dari segi bangunan. Bangunan yang berbentuk seperti nasi tumpeng atau gunung merupakan ciri khas dari Monjali. Tinggi dari bangunan ini adalah 31,8 meter. Konon bentuk bangunan yang mengerucut ke atas ini merupakan lambang yang mempresentasikan Gunung Merapi Yogyakarta dan simbol kemakmuran masyarakat Yogya. Dalam tradisi Jawa tumpeng seolah-olah sebagai bentuk gunung yang dapat dihubungkan dengan kakayon atau gunungan dalam wayang kulit, yang melambangkan kebahagiaan / kekayaan kesucian dan sebagai penutup setiap episode perjuangan bangsa. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Yogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera. Nama Monumen Yogya Kembali merupakan lambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai pengingat akan sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.
 \\ \\
-Monjali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dan peletakan batu permata monumen ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX setelah upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Lokasi Monjali yang terletak di atas lahan seluas 49.920 m2 juga ditetapkan oleh beliau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989 bangunan ini selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan penandatanganan prasasti. Maksud dan tujuan dibangunnya Monumen Yogya Kembali adalah:\\+{{:​20150206_125654.jpg?​200 |}}Monjali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dan peletakan batu permata monumen ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX setelah upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Lokasi Monjali yang terletak di atas lahan seluas 49.920 m2 juga ditetapkan oleh beliau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989 bangunan ini selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan penandatanganan prasasti. Maksud dan tujuan dibangunnya Monumen Yogya Kembali adalah:\\
 1. Sebagai ungkapan penghargaan dan rasa terimakasih kepada para kusuma bangsa yang telah mengorbankan jiwa raganya merebut kembali Yogyakarta sebagai ibukota perjuangan Republik Indonesia.\\ 1. Sebagai ungkapan penghargaan dan rasa terimakasih kepada para kusuma bangsa yang telah mengorbankan jiwa raganya merebut kembali Yogyakarta sebagai ibukota perjuangan Republik Indonesia.\\
 2. Sebagai tetenger peristiwa Yogya Kembali yang telah membuktikan kemampuan bangsa Indonesia untuk berjuang yang akhirnya memperoleh kemenangan baik di bidang fisik bersenjata maupun di bidang diplomasi.\\ 2. Sebagai tetenger peristiwa Yogya Kembali yang telah membuktikan kemampuan bangsa Indonesia untuk berjuang yang akhirnya memperoleh kemenangan baik di bidang fisik bersenjata maupun di bidang diplomasi.\\
 3. Untuk mewariskan nilai – nilai luhur perjuangan bangsa Indonesia kepada generasi penerus bangsa sebagai wahana pendidikan dan sarana rekreasi. 3. Untuk mewariskan nilai – nilai luhur perjuangan bangsa Indonesia kepada generasi penerus bangsa sebagai wahana pendidikan dan sarana rekreasi.
 \\ \\
-Saat memasuki halaman museum, pengunjung sudah disambut oleh replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Pesawat Jepang yang dibuat pada tahun 1933 ini sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Rilo Pambudi, tanggal 29 juni 1994. Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat replika pesawat tempur Jepang Guntai. Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal pertama Sutria Tubagus pada tanggal 29 Juli 1996. Pada podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua meriam beroda lengkap dengan tempat duduknya. Kedua meriam itu adalah Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam PSU Bofors L - 60 kaliber 40 mm. Meriam – meriam ini sumbangan dari Kasad, diambil dari Gudbalkir, Guspusgat dan optic Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996. Pada bagian ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding menghadap ke bangunan utama Monjali yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi “Kerawang Bekasi” hasil karya Chairil Anwar untuk pahlawan yang telah gugur.+{{ :​20150206_130058.jpg?​200|}}Saat memasuki halaman museum, pengunjung sudah disambut oleh replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Pesawat Jepang yang dibuat pada tahun 1933 ini sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Rilo Pambudi, tanggal 29 juni 1994. Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat replika pesawat tempur Jepang Guntai. Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal pertama Sutria Tubagus pada tanggal 29 Juli 1996. Pada podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua meriam beroda lengkap dengan tempat duduknya. Kedua meriam itu adalah Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam PSU Bofors L - 60 kaliber 40 mm. Meriam – meriam ini sumbangan dari Kasad, diambil dari Gudbalkir, Guspusgat dan optic Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996. Pada bagian ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding menghadap ke bangunan utama Monjali yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi “Kerawang Bekasi” hasil karya Chairil Anwar untuk pahlawan yang telah gugur.
 \\ \\
-Monumen dikelilingi oleh kolam yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan ke pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum, ruang pengelola, perpustakaan,​ ruang sidang utama (ruang serbaguna), ruang bagian operasional,​ dan ruang souvenir. Empat ruang museum ini menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI, serta seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Koleksi utama pada lantai ini adalah kursi panggul rotan yang pernah digunakan oleh Jendral Soedirman. Di sebelah ruang museum 1 terdapat ruang sidang utama, ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.+Monumen dikelilingi oleh kolam yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan ke pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum, ruang pengelola, perpustakaan,​ ruang sidang utama (ruang serbaguna), ruang bagian operasional,​ dan ruang souvenir. Empat ruang museum ini menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI, serta seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Koleksi utama pada lantai ini adalah kursi panggul rotan yang pernah digunakan oleh Jendral Soedirman. Di sebelah ruang museum 1 terdapat ruang sidang utama, ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.{{:​20150206_125521.jpg?​200 |}}
 \\ \\
-Pada jalan utara dan selatan lantai 1 Monjali terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Beberapa peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan,​ kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di lantai 2, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta. Diorama ini berbentuk gambar 3 dimensi yang dilengkapi dengan permainan lampu sorot dan latar belakang suara.+Pada jalan utara dan selatan lantai 1 Monjali terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Beberapa peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan,​ kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di lantai 2, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta. Diorama ini berbentuk gambar 3 dimensi yang dilengkapi dengan permainan lampu sorot dan latar belakang suara.{{ :​senapan-mesin.jpg?​200|}}
 \\ \\
 Lantai tiga yang merupakan lantai teratas ini merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Titik imajiner pada bangunan ini terletak pada tempat berdirinya tiang bendera tersebut. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan meresapi semangat nasionalisme dan patriotisme perjuangan mereka pada masa lalu. Lantai tiga yang merupakan lantai teratas ini merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Titik imajiner pada bangunan ini terletak pada tempat berdirinya tiang bendera tersebut. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan meresapi semangat nasionalisme dan patriotisme perjuangan mereka pada masa lalu.
 \\ \\
-Monjali tidak hanya sebagai sebuah museum edukasi sejarah bangsa Indonesia, namun juga dapat menjadi sarana hiburan, tempat wisata serta rekreasi bagi pengunjungnya. Hal tersebut terlihat dari area halaman museum yang dikembangkan menjadi sebuah taman hiburan yang bernama “Taman Pelangi”. Taman ini berisi penuh dengan lampion yang dibentuk bermacam – macam rupa dan akan menyala di malam hari. Taman ini dibuat dengan tujuan agar tidak bosan berada di kawasan museum, bahkan menjadikan museum sebagai wahana rekreasi bersama keluarga dan kerabat. Untuk menikmati fasilitas museum dan Taman Pelangi, pengunjung hanya dikenakan biaya operasional sebesar Rp 10.000,00 saja.+{{:​11-300x199.jpg?​200 |}}Monjali tidak hanya sebagai sebuah museum edukasi sejarah bangsa Indonesia, namun juga dapat menjadi sarana hiburan, tempat wisata serta rekreasi bagi pengunjungnya. Hal tersebut terlihat dari area halaman museum yang dikembangkan menjadi sebuah taman hiburan yang bernama “Taman Pelangi”. Taman ini berisi penuh dengan lampion yang dibentuk bermacam – macam rupa dan akan menyala di malam hari. Taman ini dibuat dengan tujuan agar tidak bosan berada di kawasan museum, bahkan menjadikan museum sebagai wahana rekreasi bersama keluarga dan kerabat. Untuk menikmati fasilitas museum dan Taman Pelangi, pengunjung hanya dikenakan biaya operasional sebesar Rp 10.000,00 saja.{{ :​14293979046_09bf0afd82_t.jpg?​200|}}
 \\ \\
 ===Sumber:​=== ===Sumber:​===
museum_jogja_kembali.txt · Last modified: 2015/05/16 11:16 by vessalius